3 PEBISNIS MUDA INDONESIA BIDANG FASHION YANG MENGINSPIRASI

Memutuskan untuk menjadi seorang pebisnis bukanlah suatu hal yang dapat dikatakan mudah. Butuh keberanian dan kemantapan hati untuk memilih jalan ini. Karena nantinya, akan selalu ada konsekuensi, resiko, dan segala hal yang butuh untuk diputuskan matang, penuh pertimbangan, juga pengambilan keputusan atas keadaan genting yang mungkin terjadi.

Untuk itu, mempersiapkan diri dengan kondisi-kondisi tersebut sebelum memulai berbisnis merupakan step penting, agar tidak terlalu lena dengan hal yang baik-baik saja. Karena sampai saat ini, hal yang paling menjadi perhatian saat memulai bisnis adalah tentang keuntungan, utamanya pada anak muda.

Meski tak semuanya seperti itu, hampir sebagian besar pebisnis muda memutuskan gulung tikar saat ditengah perjalanan bisnisnya mengalami masalah yang ini membuat mereka terdistraksi dan berpikir untuk mengakhiri.

Namun, tak sedikit dari mereka yang tetap survive, bertahan untuk berusaha lebih keras dan akhirnya membesarkan bisnisnya dan dikenal. Tentu itu merupakan prestasi tersendiri mengingat mereka memulai bisnis di usia yang cukup belia, di mana sejawatnya mungkin belum berpikir tentang hal-hal seperti ini.

Siapa saja mereka? Dan bagaimana kisah perjalanan bisnisnya? Simak lengkapnya di bawah ini!

Yukka Harlanda, Brodo Footware

Berawal dari kesulitannya menemukan sepatu yang memiliki size besar dengan harga terjangkau saat ia masih menyandang status mahasiswa, Yukka kemudian menemukan vendor sepatu custom yang pas. Setelah memakai sepatu tersebut dan memamerkannya kepada temannya, ia kaget karena banyak yang tertarik. Dari sanalah Brodo akhirnya lahir.

Dengan membuka sistem penjualan open order, bermodalkan tabungannya sekitar 3,5jt ia bersama rekannya Putera Dwi Kurnia yang juga menyumbang 3,5jt untuk modal mereka membiayai produksi dari sepatu pesanan tersebut, sekitar 40 buah sepatu.

Keduanya lantas memulai pemasaran produk lewat salah satu jejaring sosial yang saat itu memang sering digunakan sebagai media penjualan online, Kaskus. Selain itu, mereka juga rajin mempromosikan produknya via Facebook page dan BBM.

Hasil dari ketekunan keduanya berbuah omzet nyaris miliaran tupiah perbulan saat ini. Tak hanya lewt online store, Brodo juga telah memiliki fisik store di 4 kota besar seperti, Jakarta, Bandung, Bekasi, dan Surabaya.

Carline Darjanto, Cotton Ink

Dengan tujuan menambah uang saku setelah lulus dari studinya, Carline Darjanto bersama sahabatnya Ria Sarwono memutuskan untuk bersama membuat Cotton Ink di tahun 2008. Awalnya, Carline hanya menjadikan usahanya tersebut sebagai usaha sampingan, namun lambat laun karena membludaknya permintaan, Ia kemudian memutuskan untuk fokus menggeluti bisnis ini.

Cotton Ink menjadi populer saat itu karena pemasaran kaus bersablon Barrack Obama. Dari situ, keduanya kemudian mengembangkan usahanya dengan menambah beberapa produk fashion wanita seperti kaus, baju, legging, aksesori, juga syal.

Cotton Ink terus merangkak naik hingga akhirnya saat ini telah mencapai produksi 10.000 unit per bulannya. Dibantu 30orang karyawan untuk operasional, saat ini tercatat Cotton Ink telah berhasil meraup omzet hingga ratusan juta rupiah.

Yasa Singgih

Terjunnya Yasa Singgih untuk menjadi seorang pengusaha ini di mulai di usia yang bisa dibilang sangat muda. Berawal dari kabar sakitnya ayahnya di saat ia masih dudul di bangku SMP, dengan pikiran tidak ingin menambah beban, Yasa mulai mencari sendiri uang tambahan dengan menjadi MC di pernikahan.

Lanjut ke bangku SMA, di mana karirnya sebagai pebisnis di mulai. Penjualan kaos pertamanya tidak berjalan lancar. Dengan bekal desain yang ia lakukan menggunakan Microsot Word, sampai lewat dua minggu, kaos yang ia jual baru berhasil terjual sebanyak dua buah saja.

Namun hal tersebut tak membuatnya putus asa. Ia kemudian membeli kaus grosir di Tanah Abang sejumlah 4 juta sebagai modal yang ini menjadi titik balik usahanya yang perlahan membaik.

Setelah merasa berhasil dengan bisnis kausnya, ia coba merambah ke bidang kuliner dengan membuka sebuah kafe yang karena perhitungan kurang cermat, tak lama setelahnya kafe tersebut terpaksa harus ditutup karena bangkrut.

Di usianya yang ke 19, ia bangun kembali usahanya. Melihat peruntungan di bidang fashion, ia kemudian kembali berbisnis dan membangun sebuah local brand untuk fashion pria dengan nama Men’s Republic.

Memanfaatkan online marketing, saat ini Men’s republic telah memiliki kuota produksi ribuan sepatu per bulannya dengan omzet miliaran rupiah.

Jika Anda terlalu bingung ingin memulai bisnis dari mana, Anda bisa coba bergabung dengan QNET pada bisnis multilevel marketingnya. Sempat terpikir Benarkah Qnet Penipuan? karena beberapa berita kurang sedap beberapa waktu lalu yang pernah tersebar? Anda tak perlu khawatir karena semua kesalahpahaman tersebut telah terselesaikan.

Anda dapat membaca Review Qnet Penipuan dan memutuskan betapa terpercaya dan profesionalnya bisnis yang dijalani oleh perusahan yang sekarang telah memiliki cabang di banyak negara ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *